Skip to content

  • Home
  • Sulut
    • Pemprov
    • Manado
    • Minahasa
    • Minut
    • Minsel
  • Hukrim
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Olah raga
  • Parlemen
  • Politik
  • Bawaslu/KPU
  • Politik
  • Unima

Simak Penyebab Penyelenggara Pinjol Mengalami Kredit Macet

admin, 08/07/202330/07/2023
Simak Penyebab Penyelenggara Pinjol Mengalami Kredit Macet

JAKARTA — Penyelenggara financial technology peer-to-peer (fintech) P2P lending alias pinjol mengalami kredit macet atau pinjaman macet, ada faktor penyebabnya.

Dilansir dari Media bisnis.com. Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi PrastomiyonoPrastomiyono mengatakan, salah penyebab kredit macet pemgelenggara Pinjol adalah hasil produksi pada borrower atau peminjam yang tidak mencapai target yang diestimasikan.

 

“Adanya kegagalan panen pada beberapa proyek serta adanya keterlambatan pembayaran dari offtaker penerima dana [juga menjadi penyebab fintech P2P lending mengalami kredit macet],” ungkap Ogi dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (6/7/2023).

Untuk itu, Ogi meminta agar setiap pemain fintech P2P lending terus melakukan penagihan kepada penerima pendanaan, pengecekan, hingga monitoring kepada peminjam dana alias borrower. Serta, melakukan upaya-upaya hukum terhadap borrower sebagai bentuk penanganan pinjaman macet tersebut.

“ Selain itu, kami meminta penyelenggara untuk mengkomunikasikan proses penanganan pendanaan yang macet kepada lender [pemberi pinjaman] secara transparan dan up to date,” ujarnya.

Berdasarkan data statistik Fintech Lending periode Mei 2023 yang dipublikasikan OJK pada Senin (3/7/2023), tingkat risiko kredit secara agregat atau tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) berada di angka 3,36 persen per Mei 2023, atau naik jika dibandingkan dengan posisi April 2023 mencapai 2,82 persen. Artinya, tingkat keberhasilan penyelenggara P2P lending (TKB90) secara agregat berada pada 96,64 persen.

Indikator lainnya, rasio return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing berada di level 5,55 persen dan 11,18 persen. Adapun, beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) terpantau menyusut dari 87,29 persen pada April 2023 menjadi 87,13 persen per Mei 2023.

Di samping itu, nilai outstanding pinjaman fintech P2P lending mampu mencapai Rp51,46 triliun pada lima bulan pertama 2023, atau meningkat 28,11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari sebelumnya bernilai Rp40,17 triliun pada Mei 2022.

(***)

Related Posts:

  • Semakin Marak Dan Resahkan Masyarakat, Ronny Sompie Kritisi Pinjol Ilegal
    Semakin Marak Dan Resahkan Masyarakat, Ronny Sompie…
  • IMG-20250218-WA0000
    Menjaga Bahasa Daerah di Era Digital: Peran…
  • FB_IMG_1718969283170
    Hebat ! Gelar Sosialisasi Permendikbudristek Nomor…
  • FB_IMG_1719027743809
    Paling Aktif Kolaborasi dan Koordinasi Bersama…
  • FB_IMG_1722521167104
    Klarifikasi Soal Pelaksanaan Program PIP, KHumas…
  • JG
    Cuti Kampanye, Bupati Joune Ganda Tetap Alokasikan…
Post Views: 411
Ekonomi

Navigasi pos

Previous post
Next post

Berita Terkini

  • INAKOR Dorong Klarifikasi dan Kehati-hatian Soal Kesiapan Lahan Koperasi Merah Putih
  • Wabup Minahasa Buka Layanan Jemput Bola IKD di Desa Kayuuwi
  • Merajut Gagasan di Batam, Membawa Harapan ke Minahasa
  • Penangkapan Bupati Sadewo, INAKOR: Momentum Perkuat Asta Cita dan Pemerintahan Bersih
  • Dari Batam, Bupati Minahasa Perkuat Suara Daerah di Rakernas XVII APKASI 2026
©2026 | WordPress Theme by SuperbThemes
Go to mobile version