MANADO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado meluncurkan program percontohan pemilahan sampah rumah tangga sebagai strategi baru mengurangi timbulan sampah di sumbernya. Inisiatif ini difokuskan pada 20 Kepala Keluarga (KK) di setiap lingkungan, yang diharapkan dapat menjadi katalis perubahan perilaku masyarakat secara luas. Langkah ini merepresentasikan upaya konkret pemerintah kota dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Kepala DLH Kota Manado, Pontowuisang Kakauhe, lewat Kepala bidang Pengelolaan persampahan Lieke Kembuan menjelaskan bahwa pemilahan di tingkat rumah tangga adalah fondasi utama pengelolaan sampah yang efektif. “Memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi kunci mendasar untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA,” jelas Kakauhe. Program percontohan ini dirancang untuk menciptakan model yang bisa direplikasi dan diadopsi oleh seluruh warga.
Untuk menjamin kesuksesan program, DLH membentuk tim terpadu yang terdiri dari unsur DLH sendiri, pihak kelurahan, dan ketua lingkungan setempat. Tim ini akan menjadi ujung tombak dalam melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat. Kolaborasi multipihak ini diyakini dapat meningkatkan akseptansi program karena melibatkan tokoh-tokoh yang paling memahami dinamika warga di akar rumput.
Metode utama yang akan diterapkan adalah sosialisasi secara door to door. Pendekatan personal ini dipilih untuk memberikan pemahaman yang komprehensif dan jelas mengenai tata cara pemilahan, mulai dari pengenalan jenis sampah organik (seperti sisa makanan dan daun) hingga anorganik (seperti plastik dan kertas). “Kami ingin memastikan tidak ada kesalahan persepsi. Setiap keluarga harus paham betul cara memilah dengan benar,” tambah Kakauhe.
Target awal program adalah mencakup 1.000 kepala keluarga di seluruh Kota Manado, yang dihitung dari 20 KK di setiap lingkungan. Angka ini menjadi target kuantitatif pertama yang ingin dicapai. “Melalui keterlibatan lurah dan ketua lingkungan, kami ingin memastikan sosialisasi berjalan maksimal sehingga akan ada seribu kepala keluarga di Kota Manado yang melakukan pemilahan sampah,” tegas Kakauhe.
Lebih dari sekadar sosialisasi, tim terpadu juga akan melakukan pendampingan berkelanjutan dan evaluasi berkala. Monitoring ini penting untuk mengukur tingkat kepatuhan, mengidentifikasi kendala di lapangan, serta mengevaluasi dampak nyata program terhadap pengurangan sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo. Data dari evaluasi akan menjadi bahan penyempurnaan program sebelum diperluas.
Partisipasi aktif masyarakat dinilai sebagai kunci penentu. DLH berharap, 20 KK percontohan di tiap lingkungan dapat menjadi agen perubahan yang memengaruhi tetangga di sekitarnya melalui contoh nyata. Dampak yang diharapkan tidak hanya pada pengurangan volume sampah, tetapi juga pada peningkatan nilai ekonomi sampah anorganik yang telah terpilah dan dapat didaur ulang.
Program ini merupakan bagian dari visi besar Kota Manado menuju kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga, DLH optimis bahwa kebiasaan memilah sampah dapat mengakar dan menjadi budaya baru. Keberhasilan program percontohan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penerapan pemilahan sampah mandiri di seluruh rumah tangga Manado di masa depan.(JS