MANADO – Di bawah terik matahari Jumat pagi, Aula Pemkot Manado menjadi saksi dimulainya sebuah babak baru tata kelola lingkungan. Dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Drs. Pontowuisang Kakauhe, MM, Rapat Koordinasi ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah deklarasi komitmen untuk mengakselerasi pelayanan publik yang modern dan berkelanjutan bagi warga Kota Manado.
Sorotan utama rakor ini jatuh pada peluncuran implementasi aplikasi SI Alpha, sebuah terobosan digital yang akan merevolusi layanan pemakaman hijau. Dengan integrasi data kependudukan, sistem ini dirancang untuk memastikan setiap proses administrasi berjalan tertib, akurat, dan penuh penghormatan.
“Ini lebih dari sekadar digitalisasi. Ini tentang menghadirkan pelayanan yang profesional sambil menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan,” tegas Pontowuisang Kakauhe dalam sambutannya, menggarisbawahi filosofi di balik transformasi ini. (Jumat,9/1/2026)
Namun, perhatian sang Kadis tidak hanya tertumpu pada inovasi sistem. Dalam forum yang sama, komitmen untuk melindungi para pekerja lingkungan hidup ditegaskan kembali. Mereka, yang menjadi ujung tombak kebersihan kota, diakui perannya sebagai pahlawan yang menjaga kesehatan lingkungan Manado setiap hari, sebuah kebijakan yang menunjukkan kepedulian pada aspek humanis dari pembangunan.
Di meja rapat yang sama, strategi penanganan sampah dikupas tuntas oleh Kabid Pengolahan Sampah dan Limbah B3, Magrietje Lieke Kembuan. Dua program utama, yaitu pengolahan sampah konvensional dan pengendalian limbah B3, menjadi porosnya. Untuk memperkuatnya, DLH gencar mendekati jantung penghasil sampah: hotel, restoran, dan kafe diajak berkolaborasi dalam pemilahan sampah dari sumbernya, sebagai langkah kritis mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Untuk itu, DLH tidak henti-hentinya mendorong peran serta aktif warga dalam memilah sampah rumah tangga. Visinya jelas: membangun budaya sadar lingkungan yang dimulai dari setiap rumah, menciptakan alur pengelolaan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Langkah konkret pun segera diwujudkan. Penambahan lubang biopori di berbagai titik strategis, seperti median jalan dan area pasar, akan digencarkan. Ini adalah solusi multifungsi: mengurangi genangan air sekaligus mengelola sampah organik menjadi kompos, menunjukkan pendekatan cerdas yang menyelesaikan dua masalah sekaligus.
Yang menjadi perubahan paradigma adalah kebijakan baru tentang TPA. DLH menegaskan, TPA Ilo-ilo bukanlah tujuan akhir semua sampah. Hanya sampah residu yang benar-benar tidak terkelola yang akan berakhir di sana. Sampah lain akan melalui proses pemilahan dan daur ulang, mengarah pada sistem sirkular yang minim pembuangan.
Dengan segala langkah strategis dan inovasi ini, DLH Kota Manado menatap masa depan sebagai role model pengelolaan sampah mandiri. Pontowuisang Kakauhe dan jajarannya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Manado yang bersih, sehat, dan lestari. “Salam Lestari,” bukan sekadar slogan, melainkan semangat yang diimplementasikan dalam setiap kebijakan, untuk generasi sekarang dan yang akan datang.(Josel)