MINAHASA SELATAN, E-Karyamedia.com – Komitmen terhadap pelestarian budaya daerah terus ditunjukkan salah satu anggota DPRD Kabupaten Minahasa Selatan, Noni Altje Luisye Singal. Kepedulian tersebut kembali terlihat dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026 di Desa Kaneyan, Kecamatan Tareran.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah lomba Tarian Maengket, yang turut disponsori Luisye Singal dengan menyediakan hadiah bernilai jutaan rupiah. Untuk lomba tersebut, juara pertama mendapatkan hadiah sebesar Rp1.250.000, juara kedua Rp1.000.000, dan juara ketiga Rp750.000.
Selain itu, disediakan pula hadiah hiburan untuk dua jaga, masing-masing sebesar Rp500.000, serta sejumlah door prize yang turut menambah semarak kegiatan.
Namun, bagi Luisye Singal, besarnya hadiah bukanlah tujuan utama. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana kegiatan seperti lomba Maengket mampu menjaga budaya Minahasa agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.
“Bukan semata-mata besarnya hadiah yang kita cari. Yang paling penting adalah makna dari tarian Maengket itu sendiri. Ini merupakan bagian dari budaya dan warisan leluhur yang harus terus kita jaga, kembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Luisye Singal.
Ia menilai, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni atau kegiatan tertentu, tetapi harus diwujudkan secara berkelanjutan dengan memberikan ruang kepada masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengenal dan mempraktikkan seni budaya daerah.
Tarian Maengket sendiri merupakan salah satu kesenian tradisional Minahasa yang memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat. Dalam berbagai dokumentasi kebudayaan daerah, Maengket dikenal sebagai perpaduan antara gerak tari dan nyanyian, dengan bagian-bagian yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Minahasa, seperti ungkapan syukur atas hasil panen, kehidupan bersama, serta pergaulan masyarakat.
Karena itu, dukungan terhadap kegiatan Maengket dinilai bukan hanya sebagai bentuk dukungan terhadap sebuah perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas budaya daerah.

Teddy Ropa: Budaya Jangan Sampai Hilang Ditelan Zaman
Sementara itu, Hukum Tua Desa Kaneyan, Teddy Noldy Ropa, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak terhadap rangkaian kegiatan HUT ke-81 RI di Desa Kaneyan, termasuk perhatian terhadap kegiatan seni budaya.
Menurutnya, kegiatan seperti lomba Maengket memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, berkreasi sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
“Kami pemerintah desa tentu sangat mengapresiasi dukungan Ibu Luisye Singal. Ini bukan hanya tentang hadiah, tetapi bagaimana masyarakat kembali diingatkan bahwa budaya daerah harus kita jaga bersama. Jangan sampai budaya kita hilang ditelan zaman,” kata Teddy Noldy Ropa.
Ia berharap kegiatan-kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di Desa Kaneyan pada momentum-momentum berikutnya, sehingga budaya daerah tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat.
Rangkaian perayaan HUT ke-81 RI di Desa Kaneyan sendiri telah melaksanakan sejumlah perlombaan yang melibatkan masyarakat. Semangat kebersamaan, kreativitas dan pelestarian budaya menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.
Dukungan Luisye Singal terhadap lomba Maengket sekaligus memperlihatkan bahwa perhatian terhadap kebudayaan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, budaya lokal membutuhkan kepedulian bersama agar tetap menjadi identitas masyarakat Minahasa Selatan.
“Maengket bukan sekadar tarian. Di dalamnya ada sejarah, nilai, kebersamaan dan identitas kita. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?” demikian pesan yang menjadi semangat dalam kegiatan tersebut.
(You)
