Manado, E-Karyamedia.com– Setiap tanggal 8 Maret, denyut semangat kesetaraan kembali berdetak di seluruh penjuru dunia. Menyambut momen bersejarah itu, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Utara, yang juga menjabat sebagai Ketua Dekranasda dan Bunda PAUD Provinsi Sulut, Anik Yulius Selvanus, mengajak kaum hawa untuk merenungkan kembali jejak panjang perjuangan perempuan.
Menurut Anik, Hari Perempuan Internasional lahir dari rahim ketidakadilan sosial pada awal abad ke-20. Saat itu, perempuan harus berhadapan dengan tembok tebal diskriminasi, mulai dari upah yang timpang hingga hak suara yang dibungkam. “Ini adalah bentuk perjuangan kaum perempuan di masa lalu melawan kondisi yang tidak adil,” ujarnya di Manado, Minggu (8/3/2026).
Ia lantas merunut sejarah, mengingatkan bagaimana pada tahun 1908, ribuan perempuan berani turun ke jalan. Sekitar 15.000 perempuan berbaris di Kota New York, menyuarakan hak-hak mereka yang terenggut. Aksi heroik itu menjadi percik api yang menyulut gerakan global advokasi kesetaraan bagi perempuan.
“Dari api perjuangan itulah perempuan masa kini mendapatkan warisan yang tak ternilai. Kini, kita bisa melihat kaum hawa mengambil peran strategis di berbagai lini, mulai dari politik, pemerintahan, legislatif, hingga ekonomi, budaya, pendidikan, militer, dan sosial,” tutur istri Gubernur Sulut, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus ini.
Tahun ini, peringatan tersebut terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan tonggak 115 tahun gerakan perempuan dunia—sebuah perjalanan panjang yang telah ditempuh sejak pertama kali dideklarasikan pada 1911.
Bagi Anik, peringatan ini bukan sekadar seremonial belaka. Lebih dari itu, ini adalah pengingat kolektif bahwa diskriminasi gender masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Momentum ini diharapkan mampu membuka mata dunia akan pentingnya kebijakan yang lebih ramah dan inklusif bagi semua.
“Peringatan ini juga menjadi pengakuan dunia atas peran perempuan yang telah berhasil mendorong lahirnya undang-undang perlindungan, hak pilih politik, hingga terbukanya peluang kepemimpinan bagi kaum hawa,” jelasnya.
Di tengah arus zaman, perempuan Sulawesi Utara diminta untuk tidak pernah padam dalam mengilhami gerakan 8 Maret. Anik percaya, semangat itu harus terpancar dalam setiap peran—baik di ruang keluarga, lingkungan masyarakat, hingga di lingkup pemerintahan. Dengan begitu, pembangunan yang berkeadilan dan berpijak pada hak-hak dasar perempuan dapat terus berlangsung.
“Kita patut berbangga. Dalam sejarahnya, begitu banyak perempuan Sulawesi Utara yang hebat dan tangguh. Mereka gigih memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak, turut serta dalam perjuangan kemerdekaan, serta berkontribusi nyata dalam merumuskan konsep hidup berbangsa dan bernegara,” paparnya penuh apresiasi.
Memasuki era mengisi kemerdekaan, Anik berharap perempuan Sulut tetap kokoh pada jati diri sebagai generasi tangguh. Ia ingin mereka terus berani tampil menyuarakan hak-hak rakyat, sembari memiliki komitmen kuat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan daerah.
“Teruslah menjadi cahaya bagi dunia. Selamat memperingati Hari Perempuan Internasional,” pungkasnya dengan penuh haru dan semangat. (**)