BITUNG – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sains di sekolah terus dilakukan Universitas Negeri Manado (UNIMA). Melalui Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian (FMIPAK), tim dosen melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada Pelatihan Pembuatan Alat Peraga Fisika Sederhana Berbasis Bahan Lokal untuk Materi Listrik.
Kegiatan yang berlangsung selama delapan bulan ini dipimpin oleh Dra. Theresje Mandang, M.Si. bersama anggota tim Dr. Jeane Cornelda Rende, M.Si., dan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Tataaran, Kabupaten Minahasa, yang menjadi sekolah mitra utama dalam program tersebut.
Menurut Mandang, hasil observasi di SMP Negeri 2 Tataaran menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan media pembelajaran fisika yang praktis dan terjangkau. Guru dan siswa membutuhkan alat peraga untuk memperjelas konsep listrik seperti rangkaian seri-paralel, konduktor, isolator, serta prinsip arus dan tegangan, mengingat minimnya fasilitas laboratorium.
“Kondisi di SMP Negeri 2 Tataaran menggambarkan realitas banyak sekolah. Guru perlu media konkret untuk mengajar materi listrik, namun ketersediaannya terbatas. Karena itu pelatihan ini sangat relevan,” ujar Mandang.
Pelatihan dimulai dengan penguatan teori dasar listrik, kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan alat peraga dengan memanfaatkan bahan lokal.
Beberapa contoh alat yang ditunjukkan meliputi:
- Rangkaian listrik sederhana menggunakan kabel bekas dan LED
- Generator mini berbasis magnet sederhana
- Alat peraga konduktor-isolator dari barang daur ulang
Guru dan siswa SMP Negeri 2 Tataaran menunjukkan antusiasme tinggi saat mengikuti sesi praktik. Mereka dibagi dalam kelompok dan diberi kesempatan merakit alat peraga sendiri menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti bambu, kayu, baterai, hingga kabel bekas.
Seluruh kelompok peserta berhasil menyelesaikan pembuatan alat peraga dengan baik. Uji coba yang dilakukan di kelas menunjukkan sebagian besar alat berfungsi optimal.
Evaluasi dengan pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman siswa SMP Negeri 2 Tataaran terhadap konsep listrik. Partisipasi dan motivasi belajar juga meningkat signifikan karena siswa merasa terlibat langsung dalam proses perakitan alat.
“Peningkatan ini membuktikan bahwa penggunaan bahan lokal tidak mengurangi efektivitas pembelajaran. Justru siswa menjadi lebih aktif dan kreatif,” jelas Mandang.
Anggota tim PKM, Dr. Jeane Cornelda Rende, M.Si., menambahkan bahwa kegiatan di SMP Negeri 2 Tataaran menghasilkan sejumlah luaran berupa publikasi media massa, video dokumentasi pada kanal YouTube jurusan, serta artikel ilmiah yang sedang dipersiapkan untuk jurnal terindeks SINTA.
Rende berharap guru dan siswa SMP Negeri 2 Tataaran dapat terus mempraktikkan pembuatan alat peraga sebagai bagian dari pembelajaran fisika.
“Kegiatan ini bukan hanya menambah keterampilan teknis, tetapi juga mendorong budaya inovasi di sekolah. Kami berharap praktik ini terus dilanjutkan agar pembelajaran fisika semakin konkret dan menarik,” tutup Rende. (Abner)
